Anak ini bernama "Lala"


Ya, anak ini bernama "Lala". Pertama kali kami bertemu kami bertanya siapa namanya dan ia selalu menjawab dengan mengucapkan kata "Lala". Dan begitulah hingga akhir KKN kami memanggilnya Lala. Dari raut mukanya dia terlihat seperti anak normal biasa, namun sebenarnya tidak. Entah apa nama penyakitnya tapi yang jelas dia tidak senormal temannya yang lain,namun syukurlah dia sekolah. Dia suka meminta makanan pada warga, dengan menengadahkan tangannya sambil berucap beberapa kata sebisanya. Anak ini terlihat kurang bersih, tampak jarang mandi dan (maaf) kadang bau. Setiap pagi dia selalu melongok ke jendela pondokan kami hanya sekedar untuk menyapa kami,teman-teman barunya, atau meminta makanan kami. Dia rajin sekali bertanya ini apa itu apa,haha menggelikan bila melihat teman2ku menjawab satu persatu pertanyaannya. Sesekali aku melihatnya membawa makanan berupa nasi dengan lauk pauk yang dibungkus plastik dan dia memakannya dengan menggigit lewat ujung plastik yang telah diikat itu,sangat menyedihkan, entah dari siapa makanan itu,mengapa tidak dengan piring dan disuapi seperti anak-anak yang lain?!
Lala and me


Lala dengan nasi bungkus plastik di tangannya
Sungguh menyedihkan bila mengamatinya. Lala sering kali dikucilkan oleh warga bahkan teman2 sebayanya karena kadang dia nakal. Aku mengamati kelakukan nakal Lala adalah salah satu bentuk perlindungan diri Lala dari ancaman yang dia hadapi, misal saat dia dibentak-bentak warga atau diolok-olok temannya Lala berubah sikap dengan meludahi teman2nya bahkan melempari dengan batu. Itu yang membuat dia semakin dikucilkan dan dianggap nakal, kadang dia sering diusir ketika ingin ikut bermain dengan teman2nya. Apabila merasa tertekan maka dia akan menjedotkan kepalanya dimanapun, pernah aku melihatnya berulang menjedotkan kepala di tembok, di lantai, di almari bahkan warga cerita Lala juga sering menjedotkan kepala di aspal, astagfirullah mengenaskan sekali kelakukannya.
Aku penasaran bagaimana keluarganya,mengapa dia tampak begitu kurang perhatian hingga dia bisa bermain dengan kondisi seperti itu, muka masih belepotan, baju lusuh tampak terawat, tanpa alas kaki, tangan selalu kotor. Dan hingga suatu saat akhirnya kutemukan jawabannya, Lala ternyata anak kedua dari 3 bersaudara, dia adalah satu-satunya yang kurang normal. Orang tuanya bekerja sebagai buruh tani, Ibunya telah meninggal dunia karena sakit, dan bapaknya telah menikah lagi, memilukan mendengarnya. Dari cerita tetangga, orang tua Lala tidak begitu memperhatikan Lala, apalagi status ibunya adalah ibu tiri, tak heran bila Lala menjadi seperti itu. Air mata ini menetes mendengar cerita seperti itu, sungguh memilukan aku tak tahan bila melihat dan mengamati Lala terlalu lama, aku lebih suka bermain dan meladeni apa keinginannya.Aku sedih aku tak bisa memberikan yang lebih pada Lala selama KKN, aku hanya bisa mengajarinya mencuci tangan, mencuci muka, membuang sampah pada tempatnya, menyuruhnya pulang agar istirahat, dan meladeninya bermain. Semoga Lala bisa sembuh dan normal seperti lainnya. Aku berharap kalian yang membaca tulisan ini turut berdoa akan kehidupan Lala nantinya hingga tua agar memperoleh kehidupan yang baik. Amiin.

Dinda, teman main Lala
Catatan : tidak semua warga jahat pada Lala, banyak juga warga yang baik hati, mereka memandikan Lala, memberinya pakaian dan makanan, dan mendidiknya berperilaku baik.
Lala memiliki teman bermain satu-satunya bernama Dinda.
Lala menganggap salah satu temanku sebagai Bapaknya, karena dia sering meladeni Lala.
Yuyun adalah nama asli Lala.

Share:

0 comments